Sejarah Bale Gede
Dahulu, di daerah Wonosobo terdapat seorang ulama besar yang bernama Syekh Abdul Jalil atau orang jawa biasa menyebutnya dengan sebutan Kyai Abdul Jalil. Beliau dikaruniai dua orang putra. Putra yang pertama bernama Kyai Abdul Qohar dan putra yang kedua bernama Kyai Abdul Qodir. Syekh Abdul Qodir diberi gelar oleh ayahnya Kyai Datuk Badrun dan ditugaskan di wilayah bagian timur, tepatnya di daerah Paciran (Lamongan). Sedangkan Sang kakak, yatu Syekh Abdul Qohar ditugaskan oleh ayahnya ke wilayah bagian barat. Kyai Abdul Qohar yang diberi julukan Kyai Datuk Bardud pada akhirnya pergi ke daerah pesisir dan bertemu dengan Pangeran Cakrabuana (Mbah  kuwu Cerbon). Pada saat itu wiayah Cirebon masih berupa wilayah caruban dan Pangeran Cakrabuana (Mbah kuwu cerbon) membutuhkan orang-orang alim yang mengerti ilmu agama, maka atas kehendak Allah, diperintahkanlah Syekh Abdul Qohar yang dianggap mengerti  untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama di daerah Cirebon pada masa masa awal.
Setelah perkembangan kemajuan zaman dan mulai  terbentuk  kesultanan. Syekh Abdul Qohar yang belum menikah ditugaskan ke daerah yang lebih ke barat. Sebelum ditugaskan, Pangeran Cakrabuana mempunyai kerabat yang masih dalam turunan Prabu Cakraningrat di daerah galuan padjajaran yaitu Ki Buyut Rainah. Ki Buyut Rainah, mempunyai 2 orang anak. Yang pertama Nyai mas Ratnasari dan yang kedua Nyai Mas Ratna Komala. Karena hubungan kerabat Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cerbon) dengan Ki Buyut Rainah sangat dekat, dan karena Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cerbon) mempunya seoarang kepercayaan dalam hal mengembangkan ilmu agama yaitu Syekh Abdul Qohar yang belum menikah, akhirnya, Syekh Abdul Qohar dengan Nyai Mas Ratnasari dinikahkan.
Setelah menikah, Syekh Abdul Qohar ditugaskan ke wilayah barat untuk menegakan agama Islam. Syekh Abdul Qohar dan Nyai Mas Ratnasari ditugaskan untuk tinggal di daerah Megu. Atas persetujuan Pangeran Cakrabuana (Ki gede megu) Syekh Abdul Qohar  meminta tempat kepada Kisabalanang yang saat itu menjadi salah satu penggede megu. Kisabalanang  memberi tempat di daerah megu bagian barat, tepatnya di wilayah bale gede.


Syekh Abdul Qohar adalah seorang yang luar biasa pintar dalam hal keilmuan. Ilmu yang paling dikuasai adalah ilmu tasawuf. Selain menguasai ilmu tasawuf, Syekh Abdul Qohar juga seorang Fuqoha (ahli Fikih), Mufasirin (ahli tafsir), Muhaditsin (ahli Hadis), dan  kitab yang paling didalami adalah kitab Muatah. Karena Syekh Abdul Qohar adalah seorang ulama sufi,  maka beliau menyembunyikan keilmuannya, jati dirinya.
Istrinya, Nyi Mas Ratnasari juga seorang ulama sufi. Karena ilmunya, tokoh tokoh ulama cerbon memberinya gelar Nyai Santi. Nama Nyai santi berasal dari bahasa sansekerta yang mempunyai arti wong kang due  sifat welas asih, kang seneng maring kebagusan ora seneng maring bedu beduan.
Kyai Abdul Qohar, karena keilmuannya yang luar biasa, diantara muridnya adalah Pangeran Suryadilaga atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Atas angin, putra dari  Kisabalanang (pengede megu), dan adipati cirebon yang bernama Nawangga yang berguru kepada beliau dalam rangka belajar ilmu tasawuf.
Karena pengabdianya di pakuwon cerbon sangat luar biasa, sebagai bentuk kepercayaan yang di tunjukan oleh Pangeran Cakrabuana (Mbah kuwu Cerbon)  kepada Syekh Abdul Qohar,  dibuktikan dengan diberikannya bale pangriungan, yang diberi nama bale gede. Sebagai tempat untuk menyebarkan agama islam. Bale gede tersebut adalah zaman peninggalan Pangeran cakrabuana (mbah kuwu cerbon)yang diberi oleh ayahnya, Prabu Siliwagi. Oleh karena aktifitas keagamaan yang ditegakan oleh Syekh Abdul Qohar, pada masa itu, balegede dijadikan tempat pesatren tasawuf.
Syekh abdul qohar wafat pada hari rabu terakhir di bulan safar (rebo wekasan). Kalimat yang sampai sekarang menjadi falsafah cerbon dan diambil dari bahasa sansekerta adalah Anggayuha Maring keluhuran yang mempunyai arti njalanaken perputaran lan kebagusan.